AGAR ANAK SENANG BELAJAR



Orang yang berhenti belajar akan menjadi pemilik masa lalu.Orang orang yang masih terus belajar,akan menjadi pemilik masa depan. Belajar harus di lihat sebagai sesuatu yang positifdan berharga buat diri sendiri, bukan hanya sesuatu yang harus kita lakukan untuk memenuhi harapan orang lain terhadap kita.

Dalam falsafah belajar, WINSTON ChURCHILL, Mantan perdana menteri inggris yang berperan dalam aksi mengakhiri Perng dunia II juga dengan yakin mengatakan pentingnya belajar. Katanya” kita hidup dan bekerja dalam perubahan dunia. Ini berarti ide ide baru akan terus bermunculan. Adalah berbahaya kalau kita tetap berada pada satu kebiasaan dimana kita terus melaksanakan tugas dengan cara yang sama seperti yang telah kita lakukan di masa lalu. Belajar tidak hanya penting untuk meastikan bahwa kita mengikuti perkembangan dalam bidang tertentu, tetapi belajar juga sumber penting dari motivasi, stimulasi, dan kepuasan dalam diri sendiri.

Prof.DR. Arief Rahman, M.Pd., Dalam seminar  “ Peran orang tua dalam mengembangkan  kecerdasan anak di era globalisasi”  mengatakan ada beberapa kelemahan dalam pendidikan di indonesia. Diantaranya, keberhasilan pendidikan hanya di ukur dari keunggulan kognitif sehingga mengabaikan pembelajaran yaang sifatnya efektif dan psikomotorik. Akibatnya pembinaan dan pengembangan watak bangsa menjadi terabaikan  model evaluasi yang digunakan selama ini hanya mengukur kemampuan berfikir konvergen, sehingga siswa tidak di pacu untuk berpikir kreatif dan imaginatif. Proses pendidikan berubah menjadi proses pengajran, yang berakibat materi pelajaran menjadi tidak relevan dengan kehidupan sehari hari. Serta kemampuan mengatasi materi tidk di sertai dengan pembinaan kegemaran belajar.

Perubahan paradigma belajar

Globalisasi memunculkan ciri ciri persaingan dalam berbagai hal, dominasi luar akan sangat mempengarui kondisi kita  seta adanya tuntutan peningkatan kualitas  pengetahuan dan ketrampilan. Oleh sebab itu paradigma belajar harus di ubah agar anak anak mempunyai bekal  menghadapi globalisasi , adpun ghlobalisasi itu menurut arief adalah sebagai berikut:

Tujan belajar: dari menguasai ilmu jadi menemukan ilmu

Proses belajar: dari orientasi yang mementingkan guru menjadi berpusat pada murid

Proses berpikir:  dari menghafal, mengetahui dan mengerti berubah menjadi kreatif

Inovativ dan imaginatif.

Ecvaluasi belajar: dari “ benar- salah” atau pilihan ganda , menjadi kemungkinan

Jawaban bervariasi atau berbentuk essai.

Hak bukan kewajiban

Pandangan pandangan diatas menyepakati bahwa belajar adalh proses yang di lakukan setiap orang yang ingin maju.

Menurut Rachma Fitria, M.si , ketua yayasan anak cendikia indonesia , platform belajar untuk masa depan yang ingin di terapkan pada anak anak perlu di kritisi, karena belajar bukan menjadi kewajiban anak, tapi adalah hak. Sehingga berkaitan dengan hak ini, kalaupun masa depanya berhasil  itu di sebabkna karena multi faktor,jangan hanya melihat dari faktor belajar yang hanya menekankan pendidikan formal. Menurut aktivis yang skrab di sapa pipit ini. Paradigma belajar justru harus di balik,jangan sampai anak belajar hanya untuk masa depan.” Kalau anak belajr untuk masa depan , anak akan cenderung berorientasi pada hasil , bukan berorientasi pada nilai nila kehidupan. Contohnya sudah bisa di lihat, sebagian sekolah saat ini lebih berorientasi terhadap nilai UAN dari pada proses anak didiknya untuk memahami filosofi suatu ilmu.

Pemerintah semestinya memiliki Political will untuk mewujudkan pendidikan bagi semua (education for all) yang menekankan karakter. Dengan begitu , anak anak tidak lagi berkeinginan  melakukan aktivitas negatif seperti” mencontek,mencari bocoran jawaban soal, hanya untuk memperoleh nilai tinggi , berkelahi atau mengancam anak anak lain demi jawaban soal.

Perlu di ingatkan undang undang perlindungan anak(UUPA) telah menegaskan, seorang anak belajar bukan untuk masa depan,melainkan anak belajar  untuk proses tumbuh kembangnya supaya mereka siap saat memasuki usia dewasa.

“ bukti sudah banyak , anak anak yang tidak menikmati masa belajrnya dalam proses tumbuh kembang , cenderung menjadi orang dewasa yang bermasalah” dikarenakan mereka tidak memiliki kematangan emosi…(nakita edisi agustus)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: